search
Sekolah Di Jepang

OHM Studi Jepang: Pendaftaran, Informasi & Konsultasi Sekolah ke Jepang

Liburan seorang diri ke Fukuoka

Date: February 1, 2018 Categories: Tentang Jepang Tags: ,

Hi there, Mr. T is back from vacation, kembali membagi cerita tentang pengalamannya di Jepang. Pada kesempatan kali ini akan menceritakan liburannya di Jepang barat.

Di penghujung tahun 2017, Mr. T mengambil keputusan berani dengan pergi 一人で旅行, dan memilih tempat yang bukan menjadi destinasi utama dari wisatawan umum, yakni Fukuoka, Kyushu.

Mengingat waktu liburan bertepatan dengan akhir tahun dan pembukaan tahun baru, maka tiket harus jauh jauh hari harus diambil. Jenis transportasi yang dipilih adalah 夜行バス. Tiket yang diambil terbilang lebih mahal karena hari libur namun tiket balik terasa sangat mahal. Contoh perbandingan harga tiket bus malam dengan Shinkansen dan pesawat: \8000 > \15.000 > \21.000

Bus malam dilengkapi dengan charger dan selimut dan terkadang toilet (tidak semua bus), penumpang wanita yang naik seorang diri dipastikan akan duduk bersebelahan dengan wanita juga. Bus ini sering berhenti untuk istirahat dan mematikan lampu bus secara menyeluruh serta korden tidak boleh dibuka sehingga dalam bus gelap total. Ini membuat penumpang dapat lebih mudah untuk tidur dikarenakan perjalanan memakan waktu umumnya lebih dari 5jam, dan tidak etis untuk menggunakan smartphone karena cahaya layar akan sangat mencolok dan menganggu istirahat dari penumpang lain.

Tempat tinggal yang dipilih oleh Mr. T adalah ……asrama dari sohib beliau. Sohib beliau kebetulan sedang mengikuti post-graduate program di Kyuushu Daigaku setelah mengikuti seleksi ketat MEXT. Kyuudai sendiri adalah salah satu universitas terluas di Jepang (tidak kalah dengan UNPAD dan UNIMA), dan tentu saja berada di daerah non-kota. Mr. T terkejut mengetahui akses ke Kyuudai bisa ditempuh langsung dengan bus selama 80 menit perjalanan dari Hakata-eki, lokasi dimana beliau mendarat. Lebih murah dibanding menggunakan kereta+bus, namun bus ini hanya ada 1 jam sekali dan hanya beroperasi sampai pukul 4 sore saja.

Tenjin

Tenjin adalah tempat dimana manusia banyak berkumpul atau equivalent dengan Namba, Osaka. Transportasi di Fukuoka sendiri banyak menggunakan bus. Jumlah turis tidak sebanyak Osaka, dan mayoritas berasal dari Korea, dikarenakan travel company mereka menawarkan paket wisata yang sangat murah.

Ohori Park

Ohori Park adalah taman yang berdekatan dengan museum seni Fukuoka yang ternama, museum yang sayangnya masih dalam tahap renovasi selama dua tahun. Ohori Park sendiri adalah danau yang memiliki pulau kecil yang dilengkapi dengan jembatan yang menyambungkan antara ujung danau dengan ujung lainnya. Pada malam hari, taman ini menampilkan illumination yang sederhana namun manis tuk dipandang.

New year

Mr. T memutuskan menghabiskan malam tahun atau count down di pusat kota Fukuoka, tepatnya di daerah Nakasu. Pada saat ini beliau menyadari bahwa adalah keputusan yang salah untuk menghabiskan liburan akhir tahun di dalam negeri Jepang. Karena SEMUA (bukan hiperbola) toko dan tempat hiburan tutup selama malam tahun baru (bahkan ada yang baru buka tanggal 5), kelab dimana Mr. T menghabiskan malam count-down pun hanya beroperasi hingga jam 12. Tahun baru merupakan hari libur yang paling sakral bagi orang Jepang, meski sudah mengetahui fakta ini terlebih dahulu, beliau baru tahu setelah merasakan secara langsung layaknya Indonesian sejati.

Hakata

Hakata juga merupakan tempat dimana manusia banyak berkumpul, bisa disamakan dengan Umeda, Osaka. Mr. T menyempatkan diri ke Hakata Canal City, sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Fukuoka dan menikmati keindahan Illumination yang terkenal dari JR Hakata-Eki.

Hakata Ramen

Meski bukan merupakan pecinta Ramen, Hakata Ramen yang dilabel sebagai zenkoku no za besuto Ramen menjadi hal yang tak mungkin dilewatkan. Total selama 4 hari di sana, Mr. T telah mengunjungi 4 Ramen-ya, baik yang memiliki skala franchise hingga usaha kecil keluarga. Tonkotsu, Shio-Ramen dilahap dengan santap ditambah dengan hitokuchi gyoza yang sungguh luar biasa menjadi kenangan terindah dari trip ini. Ramen yang terlezat yang disantap adalah dari Ramen-ya kecil di perbatasan Nakasu dan Hakata. Tempatnya sangat sempit, hanya memiliki 12 tempat duduk dan dikelola sepasang suami istri. Kala itu, Mr. T masuk tanpa harus mengantri, dan merasa heran “kok Ramen selezat ini tidak ada yang antri, padahal sekarang ini lunch-break”, seketikanya keluar, beliau langsung merasa beruntung bisa masuk tanpa menunggu, karena yang beliau lihat adalah pemandangan dimana sekitar 30+ orang mengantri untuk makan di tempat sekecil itu. Hakata Ramen sangatlah enak, ketika menulis tulisan ini pun mulut terasa berair. Salah satu makanan wajib bagi para pecinta Ramen.

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi bagi para pelajar Indonesia untuk berani melakukan travel seorang diri Jepang, selain negara ini memiliki kesan damai dan aman bagi pelancong, juga dapat meningkatkan keberanian kalian untuk melakukan berbagai macam aksi seperti bertanya pada strangers dan melatih decisions making secara impulsif. Sebuah langkah awal untuk keluar dari cangkang dan tumbuh menjadi dewasa. 挑戦と成長 !!

Leave a Reply

Blog Category

Blog Archive