search
Sekolah Di Jepang

OHM Studi Jepang: Pendaftaran, Informasi & Konsultasi Sekolah ke Jepang

Pengalaman Cerita Siswa OHM di Jepang

Date: August 15, 2016 Categories: Studi di Jepang, Testimony Tags:


Pada tahun 2013 tepatnya saat sedang duduk di SMA dan menanti hasil kelulusan Ujian Nasional, semua siswa/i kelas 12 sedang disibukan dengan pendaftaran universitas sesuai pilihan masing-masing. Pada saat itu, sahabat dekat saya yang berniat melanjutkan studi di Jepang juga sedang disibukkan dengan berbagai persiapan termasuk mengikuti private lesson Bahasa Jepang. Sementara saya yang belum memutuskan untuk melanjutkan kuliah dimana, saya masih santai saja dan berniat menemani sahabat saya untuk belajar Bahasa Jepang. Saat itu guru saya bertanya mengenai minat saya terhadap Bahasa Jepang. Beliau bertanya karena, beliau merasa bahwa saya cenderung siswi yang cepat tanggap memahami Bahasa Jepang. Dari pujian itulah saya mulai percaya diri untuk belajar Bahasa Jepang lebih baik dan sungguh-sungguh. Sementara sahabat saya yang berniat melanjutkan kuliah di Jepang sendiri rupanya tidak memiliki minat yang kuat untuk melanjutkan studi di Jepang. Dari situ munculah niat untuk melanjutkan studi di Jepang.

Singkat cerita, saya berkonsultasi dengan orangtua saya mengenai niat untuk berkuliah di Jepang. Pada saat itu, orangtua beranggapan bahwa saya hanya bergurau saja. Karena, memang sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan mengenai ingin berkuliah di luar negeri. Melihat keseriusan saya dalam mempelajari Bahasa Jepang dan mengikuti seminar-seminar universitas di Jepang yang diselenggarakan oleh beberapa universitas di Indonesia, orangtua saya semakin yakin dengan keinginan saya. 

Banyak hal yang saya dengar mengenai Jepang, mulai dari pengalaman guru Bahasa Jepang saya yang pada akhirnya menguatkan tekad saya untuk mencari pengalaman belajar di Negeri Sakura. Melalui OHM, saya dibimbing banyak hal dari mulai apa saja yg perlu dipersiapkan dan sekolah-sekolah mana saja di Jepang yang menjadi rekomendasi untuk menuntut ilmu. Karena saya berniat untuk melanjutkan studi ke universitas di Jepang, dengan demikian saya harus memiliki persyaratan kemampuan bahasa Jepang yang pada saat itu sama sekali tidak ada bekal bahasa dari saya pribadi. Karena itu, mungkin menjadi syarat wajib untuk saya menempuh jalur sekolah Bahasa Jepang sebelum masuk ke bangku perkuliahan. 

Sekolah bahasa yang OHM rekomendasikan untuk saya menuntut ilmu Bahasa Jepang selama 1,5 tahun. Dari mulai memenuhi segala dokumen persyaratan dan wawancara langsung bersama salah satu sensei di salah satu sekolah Bahasa Jepang di Osaka. Setelah beberapa hari diumumkan bahwa saya lulus dalam semua aspek yang diteskan, akhirnya saya mempersiapkan hal-hal pribadi dari mulai visa, dll. 

Osaka, salah satu kota impian saya untuk bisa berkunjung ke kota satu ini. Bahkan tidak pernah ada dalam benak untuk menuntut ilmu di kota “Takoyaki” ini. Setibanya di Jepang, dengan ditemani oleh seseorang yang luar biasa banyak membantu saya dan dengan ikhlas membimbing saya juga rekan-rekan dari mulai 0 hingga kami mandiri. Senang bercampur sedih, itulah yang saya rasakan saat pertama kali tiba di Jepang. Senang karena akan memulai pengalaman baru yang bisa saya ceritakan kepada semua orang disekeliling saya. Sedih karena jauh dari orangtua yang sejujurnya selama hidup saya belum pernah jauh dari orangtua. Tapi itulah hidup. Saya selalu berfikir bahwa suatu saat saya akan tinggal jauh dari orangtua untuk bekerja ataupun untuk berumah tangga kelak.

“Awal mula datang ke Jepang, hanya 2 kata yang saya hafal “どこ(Doko) = Dimana” dan “遠い (tooi) = Jauh” dua kata itulah yang membatu saya. Hahahaha”

Setiap berangkat sekolah ataupun pulang sekolah ramai sekali orang yang berbelanja khususnya para turis asing. Saya pergi sekolah menggunakan bus atau kadang-kadang bergowes menggunakan sepeda bersama teman yang lainnya. Setiap hari kelas dimulai pukul 09:00 dan berakhir pukul 14:35 atau 12:30 tergantung hari. Setelah pulang sekolah, pada saat itu kami belum memiliki part time job karena kemampuan bahasa kami yang masih sangat kurang untuk berkomunikasi, biasanya kami menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan disekitar sekolah. Setelah sore tiba, kami beramai-ramai bersepeda menuju tempat tinggal kami yang pada saat itu kurang lebih 30 menit dari sekolah menggunakan sepeda. Setelah tiba dirumah, biasanya kami mengerjakan PR bersama-sama. Karena awal mula bersekolah bahasa, guru kami memberikan banyak sekali latihan atau tugas-tugas.

Tempat part time job pertama saya adalah perusahaan sayuran yang biasa mengirimkan hasil olahannya ke hotel-hotel mewah untuk dijadikan bento. Tugas saya pada saat itu adalah membentuk berbagai macam sayuran seperti wortel, labu dan lobak menjadi kepala kuda, daun, dll. Tempat part time job kami sangat dingin, mengingat suhu yang harus digunakan untuk menjaga kesegaran sayurannya ditambah lagi dengan cuaca yang pada saat itu bertepatan dengan musim dingin.

Banyak sekali pengalaman yang kami lalui. Awalnya merasa tidak yakin bisa mandiri bahkan melakukan part time job yang sebelumnya memang belum pernah kami lakukan di Negara kami, Indonesia. Tapi semua itu menjadi pembelajaran yang luar biasa berharga untuk kami. Sampai akhirnya kami bisa mencari part time job yang memang sesuai dengan keinginan kami dan kemampuan bahasa yang sudah mulai baik.

1 tahun lebih saya lalui disekolah bahasa, 1,5 tahun akan segera saya lalui. Untuk itu, saya berpikir bahwa saya harus mencapai target melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sampai akhirnya saya berkonsultasi dengan seseorang yang sangat berjasa dalam hidup saya dan saya amat sangat menyayanginya dan menganggap beliau seperti ibu kedua saya. Saya banyak sekali belajar kehidupan dari beliau dan jika diuraikan dengan kata-kata, mungkin tidak akan ada yang cukup untuk mewakili jasa beliau. Setelah berkonsultasi banyak dengan beliau, saya memutuskan untuk daftar disalah satu universitas swasta yaitu 大坂経済法科大学 (Osaka University of Economics and Law). Pada akhirnya saya mengikuti tes dan dinyatakan lulus, sangat bersyukur karena apa yang saya targetkan dan cita-citakan bisa terkabul. Dan saya yakin semuanya tidak pernah terlepas dari do’a orangtua, guru dan orang-orang sekitar.

Saat perkuliahan dimulai, sangat sulit mengikuti kelas demi kelas, belajar bersama dengan orang Jepang dan negara lain. Kosakata, pola kalimat dan lainnya tidak diajarkan lagi secara materi seperti halnya pada saat sekolah bahasa. Dibangku perkuliahan saya dituntut untuk mandiri dengan semua kosakata dan istilah-istilah ekonomi yang ditulis dalam huruf kanji. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya. Tapi saya sangat beruntung karena dikelilingi temen-teman yang sangat baik yang banyak membantu saya dalam belajar. Tahun pertama perkuliahan, saya sempat gagal dibeberapa mata pelajaran karena saya merasa belum terbiasa dengan cara belajarnya. Tapi itu semua memacu saya untuk belajar dan berlatih lebih giat dan lebih baik lagi.

Hari-hari saya lalui sebagai mahasiswi. Belajar, bermain, part time job, semua saya lakukan dengan sangat nyaman. Saya juga mencari tantangan baru dengan mencari part time job di salahsatu mini market. Karena, saya berpikir bahwa saya harus semakin meningkatkan kemampuan bahasa Jepang saya, salah satunya dengan bekomunikasi langsung dengan pelanggan. Awal mula mencoba part time job baru, sangat susah dan saya rasa saya ingin mundur. Harus teman-teman tahu, bahwa percakapan yang digunakan orang Kansai (Osaka, Kobe, Kyoto dan sekitarnya) itu adalah bahasa yang berbeda dengan kota lainnya terutama Tokyo. Disitulah saya terkadang kesulitan untuk berkomunikasi dengan logat mereka terutama para orangtua yang memiliki logat Kansai yang sangat kental. Tetapi setelah dijalani sampai sekarang yang kurang lebih sudah sekitar 1 tahun saya part time job di mini market, semuanya berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Banyak sekali pengalaman yang saya lalui, baik itu dengan suka maupun duka yang tidak akan beres apabila saya beberkan semua. Saya berharap teman-teman bisa mengambil segi positif untuk semakin semangat menggapai cita dan harapannya. Tentunya do’a adalah rekomendasi dari saya, do’alah penguat segala jalan. Bukan hanya do’a dari diri sendiri, tetapi dari orangtua dan orang sekitar sangat penting. Jangan pernah berfikir bahwa kesuksesan bisa diraih dengan mudah. Do’a, perjuangan, rasa sakit, tangisan, itulah pembentuk sukses yang sesungguhnya. Pengalaman yang saya ceritakan bukan berarti tanpa perjuangan dan tangisan ya teman-teman. Saya sangat merasakan betapa berjuangnya kita disini. Semoga teman-teman selalu berada diperlindungan Allah SWT dan Dia senantiasa memeluk mimpi-mimpi kalian. Aamiin.

Cerita dari: Imawati

Studi di Jepang TOP10

Sorry. No data so far.

Blog Category

Blog Archive